Berakhirnya sistem kehidupan Islam
pada awal abad ke-20 dan munculnya dominasi sistem kehidupan Kapitalis
merupakan problematika terbesar yang dihadapi kaum muslimin dewasa ini.
Akibatnya umat Islam semakin kehilangan gambaran nyata tentang kehidupan Islam
yang sesungguhnya.
Terlebih lagi dengan gencarnya upaya
Barat melancarkan perang pemikiran dan perang kebudayaan ke dunia Islam, maka
lengkaplah sudah kemunduran kaum muslimin. Akhirnya posisi Islam yang
seharusnya dijadikan landasan berpikir dan bertingkahlaku digantikan oleh
pemikiran Kapitalis, sehingga tidaklah aneh jika akhirnya corak kehidupan
individualis sekularis yang mendominasi umat Islam dewasa ini.
Corak kehidupan individualis-sekularis
inilah yang akhirnya membuat kaum muslimin bingung untuk menyelesaikan masalah
ini atau bahkan sebagian kaum muslimin tidak sadar bahwa mereka tengah terpuruk
dalam jurang yang sangat dalam. Kalaupun ada upaya perbaikan terhadap situasi
ini, kaum muslimin bingung jalan apa yang harus ditempuh untuk menyelesaikan
permasalah ini, mengapa demikian? Karena corak kehidupan sekularis tidak menerima
nilai-nilai atau tolak ukur yang baku, hanya nilai-nilai kemanusiaan yang semu
yang mereka agungkan, sedangkan nilai tersebut relatif.
Jadilah kaum muslimin seolah-olah
kehilangan pegangan, mereka melakukan upaya perbaikan sesuai kehendak hatinya
bukan mengikuti langkah-langkah yang sudah dicontohkan oleh Nabi Muhammad Saw,
ditambah lagi corak individualis yang mengakar kuat memicu adanya perbedaan
langkah di antara anggota masyarakat pria dan wanita, kaum pria memperjuangkan
yang dilakukan terpisah antara pria dan wanita, Bagaimana mungkin dengan sistem
seperti ini kita bisa mempersatukan dan memperbaiki keadaan umat?
Corak kehidupan individualis-sekularis
menempatkan wanita sebagai individu yang berdiri sendiri, terpisah dari pria
dan bebas menentukan cara dan tujuan hidupnya. Berbeda dengsan Islam, Islam
memandang wanita adalah sosok manusia dengan seperangkat potensi yang sama yang
diberikan oleh Allah kepada manusia baik pria maupun wanita, yaitu potensi akal
dan potensi hidup (naluri dan kebutuhan jasmani) sekaligus Allah pun memberikan
bagaimana solusi cara pemenuhannya. Dan seiring dengan potensi tersebut, Allah
menetapkan keduanya untuk menempati posisi dan peran yang beragam, yaitu
sebagai hamba Allah, sekaligus sebagai anggota keluarga apakah sebagai anak,
istri, atau Ibu juga sebagai anggota masyarakat.
Allah memberikan akal kepada manusia
agar mampu memahami petunjuk-petunjuk Nya sehingga mampu membedakan mana yang
baik mana yang buruk, yang benar dan yang salah. Tentu saja setelah melalui
proses berpikir yang benar yaitu menjadikan wahyu sebagain landasan untuk
memahami sesuatu. Dengan demikian manusia mampu menetukan apa-apa yang sesuai
dengan ketentuan Allah sebagai Khaliknya dan apa-apa yang bertentangan. Dan
ketika Allah memberi potensi naluri dalam diri manusia baik pria maupun wanita
maka Allah pun memberikan solusi bagaimana cara memuaskannya. Oleh karena itu
Allah memberikan seperangkat aturan-aturan yang harus dilaksanakan oleh pria
maupun wanita agar keduanya dapat terjun dalam kancah kehidupan ini dengan
tenang dan tentram.
Sebagai hamba Allah, dengan potensi
yang sama yaitu dari sisi insaniyah (kemanusiaan) nya maka Allah memberikan
aturan yang sama antara pria dan wanita, misalnya pembenaran kewajiban shalat,
shaum, zakat, haji, menuntut ilmu, mengemban dakwah dan sebagainya. Semua itu
dibebankan kepada manusia seluruhnya,
disanping itu Allah membebankan kewajiban mencari nafkah kepada pria
karena hal ini berkaitan dengan fungsinya sebagai kepala rumah tangga. Demikina
pula ketika Allah menjadikan tugas pokok wanita sebagai ibu dan pengelola rumah
tangga, maka hal ini pun sesuai dengan fitrah kewanitannya..
Wanita dikaruniai kemampuan untuk
memiliki tanggung jawab sebagai ibu seperti
kehamilan, melahirkan, menyusui dan mengasuh anak. Kemampuan ini tidak
terdapat pada kaum pria, namun adanya perbedaan ini bukan bearti merendahkan
salah satu atau meninggikan yang lain, semua aturan ini ditetapkan semata-mata
demi kemaslahatan dan kelanggengan hidup manusia.
Wanita sebagai bagian dari masyarakat,
maka ia tidak dapat memisahkan diri dari kehidupan masyarakat sebagaisebuah
masyarakat yang berdiri sendiri. Allah berfirman dalam QS At-Taubah ayat 71
yang artinya: “Dan orang-orang yang
beriman laki-laki dan perempuan sebagian mereka menjadi penolong bagi sebagian
yang lain”. Dengan demikian merupakan hal wajar apabila antara manusia yang
satu dengan yang lain saling bekerjasama dalam kehidupan bermasyarakat.
Sebagai bagian dari masyarakat maka
wanita sebagaimana pria memiliki andil besar dalam menentukan arah, corak dan
pola generasi masa kini dan masa depan. Karena itu merupakan suatu keharusan
bagi wanita bersama pria bertanggung jawab dalam pengaturan urusan
umat/masyarakat secara keseluruhan. Dengan kata lain merupakan kewajiban bagi
kaum muslimin maupun muslimah untuk berjuang menjadikan umat Islam sebagai
khairu ummah, sebaik-baik ummat yang ada di dunia ini, bergerak bersama-sama
dan tidak memisahkan diri. Karena Islam sebagai diin yang sempurna dan
universal memandang setiap persoalan pria atau persoalan ummat manusia
merupakan tanggung jawab seluruh kaum muslimin.
Sehingga target penyelesaian akan menjamin
terpenuhinya kebutuhan semua baik pria maupun wanita sebagai individu bagian
keluarga dan masyarakat. Sehingga apapun persoalannya apakah itu masalah
keterpurukan wanita, kemiskinan atau kekurangan pendidikan dipandang dalam
skala global tidak individu.
Masyarakat Islam merupakan satu kesatuan
yang memiliki arah dan tujuan yang satu. Sudut pandang Islam bukanlah sudut
pandang yang berskala individual, yang parsial dan dangkal penyelesaiannya.
Tetapi sudut pandang Islam berskala universal dengan penyelesaian yang tuntas
dan sempurna, karena Islam merupakan ideologi yang memancarkan sistem
kehidupan. Dengan demikian bentuk gerakan perjuanngan muslimah tidak pernah dan
tidak boleh memisahkan diri. Karena ia merupakan bagian dari gerakan yang utuh,
yaitu Islam. Inilah gerakan kaum muslimin yang harus diupayakan untuk
mengembalikan kehidupan Islam di bawah naungan ridha Allah sebagai umat terbaik
di muka bumi ini. Lalu apa yang harus kita lakukan?
Jika kita telusuri secara cermat, maka
masyarakat bukanlah sekedar sekumpulan individu-individu saja, tetapi merupakan
interaksi terus-menerus antara indvidu-individu yang dari sini akan lahir satu
pemikiran, satu perasaan dan satu aturan yang mengikat mereka. Oleh karena itu yang menentukan bangkit atau
merosotnya suatu masyarakat/umat adalah kesepakatan umum yang lahir dari
pemahaman tentang hidup berdasarkan aturan yang ditetapkan di dalamnya serta
pemikiran dan perasaan yang ada dalam masyarakat tersebut.
Dan kebangkitan yang hakiki hanya
dapat tercapai dengan mengajak masyarakat kepada aqidah islam dan melaksanakan
Islam secara sempurna. Maka langkah yang harus kita tidak lain adalah dengan
merubah pola pikir umat yang penuh dengan ide-ide barat yang pada hakikatnya
mereka adalah musuh Islam dengan tsaqofah Islam. Sehingga umat akan bangkit
dengan cara yang benar dan landasan yang benar yaitu aqidah Islam, bukan cara-cara
yang dilontarkan oleh barat yang telah merasuk pada benak mereka. Maka langkah
awal yang harus kita lakukan adalh membina umat dengan Islam,
pemikiran-pemikiran dan hukum-hukum Islam.
Pemikiran dan hukum Islam disini tidak
boleh hanya dipandang sebagai informasi saja, tapi harus dipandang sebagai
acuan untuk membahas dan mesikapi fakta yang dihadapinya, sehingga ia akan
mampu memberikan solusi terhadap problematika yang dihadapinya dengan tepat dan
benar, berdasarkan pandangan Islam. Dengan pembinaan ini maka akan terbentuk
pemahaman Islam di tengah-tengah kaum muslimin yang selanjutnya akan
berpengaruh pada tingkah lakunya dan mendorongnya untuk siap bergerak
meyampaikan dakwah Islam.
Maka merupakan suatu hal yang alami
jika pada akhirnya akan lahir pada diri umat kerinduan untuk hidup dalam
naungan Islam, diatur oleh hukum-hukum Islam dan senantiasa mengupayakan agar
aturan Allah dan Rasul-Nya tegak dimuka bumi ini. Karena hanya dengan sistem
Islamlah umat akan mampu meraih khairu ummah
Wallahualam
bishawab.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar