Rabu, 30 Maret 2022

Pertolongan Allah Itu Dekat

Rasulullah saw. menegakkan Islam memang sangat berat. Rintangan demi rintangan bermunculan tak kunjung henti. Sejak awal Rasulullah berdakwah, hampir semua orang Quraisy memusuhi. Hingga tiba malam yang menegangkan itu, ketika perintah hijrah harus beliau tunaikan.

Banyak pelajaran berharga yang dapat dipetik di sepanjang perjalanan hijrah. Utamanya bagi para pejuang Islam yang ingin menegakkan perjuangan Islam, melalui perjuangan politik maupun moral, melalui penyadaran umat, atau melalui jalur-jalur yang lain.

Setidaknya ada tiga peristiwa dalam perjalanan hijrah yang menjadi tanda-tanda kekuasaan Allah terkait dengan diselamatkannya nyawa Rasulullah yang terancam. Tiga peristiwa tersebut adalah:

Pertama, konspirasi untuk membunuh Rasulullah. Malam saat beliau akan berhijrah itu, pemuda-pemuda pilihan dari kabilah-kabilah Quraisy melakukan pengepungan. Tujuan mereka satu: habisi Muhammad. Namun, Allah menghancurkan rencana itu. Rasulullah keluar, melewati mereka sambil mengambil segenggam debu dan menaburkan ke kepala mereka. Saat itu beliau membaca ayat Al-Qur’an, yang artinya, “Dan kami adakan di hadapan mereka dinding dan di belakang mereka dinding (pula), serta kami tutup (mata) mereka sehingga mereka tidak dapat melihat ” (TQS.Yasin: 9).

Para pemuda itu pun tertidur, hingga mereka tidak lagi menemukan Rasulullah. Hanya Ali bin Abi Thalib yang tertidur terbujur. “Tidurlah kamu di tempat tidurku dan pakailah selimut Hadrami yang berwarna hijau itu. Mereka tidak akan berbuat jahat kepadamu.” begitu Rasulullah berpesan.

Kedua, apa yang menimpa Rasulullah bersama Abu Bakar pada keesokan paginya. Kembali nyawa Rasulullah dan Abu Bakar terancam. Hal ini disebabkan Quraisy membuat sayembara untuk menangkap Rasulullah saw. Salah satu pengikut sayembara itu adalah Suraqah bin Malik. Ia mengisahkan bagaimana terlibat dalam upaya membunuh Rasulullah: “Ketika aku sedang duduk di salah satu majelis kaumku, yakni Bani Mudhlij, salah seorang dari mereka menemui kami. Ia berkata ‘Wahai Suraqah, aku telah melihat orang di pantai. Aku yakin mereka adalah Muhammad dan para sahabatnya’. Aku yakin mereka adalah Muhammad dan para sahabatnya, namun kamu telah melihat si fulan dan fulan. Mereka berjalan di bawah pengawasan kami.”

Suraqah memang sengaja melakukan disinformasi, karena ia sendiri ingin menjadi pemenang sayembara itu. Maka ia segera bangkit dan masuk ke dalam rumah. Ia segera memerintahkan pelayannya untuk mengeluarkan kuda. Suraqah sendiri segera mengambil tombak, lalu keluar melalui pintu belakang. Begitu kudanya tiba, segera ia memacu kudanya sekencang mungkin. Suraqah berhasil mengejar Rasulullah saw. Namun kaki kudanya tiba-tiba terantuk dan ia jatuh terpelanting. Merasakan gelagat aneh itu, Suraqah bangun dan mengambil tabung tempat menyimpan anak panah itu. Ia ingin tahu apakah bisa mencelakakan Rasulullah dan Abu Bakar atau tidak.
“Ternyata yang keluar adalah yang tidak menyenangkanku,” kata Suraqah.

Namun, ia segera menunggang kudanya kembali dan tidak menghiraukan hasil undian nasibnya. Kudanya melaju cepat sehingga mendekati Rasulullah saw. Ketika itulah, kaki kuda itu terperosok sampai ke lutut, sedang Suraqah terjerembab.
“Aku hentakkan kudaku lalu bangkit. Hampir saja kedua tangannya tidak keluar. Setelah berdiri tegak, tiba-tiba dari bekas tangannya (kaki)nya itu keluar debu yang berkilau di langit seperti asap. Kemudian aku mengundi nasib dengan anak panah, dan yang keluar adalah hal yang tidak aku inginkan,” kata Suraqah mengenang kisahnya.

Akhirnya ia berseru kepada Rasulullah bahwa dirinya tidak akan berbuat jahat kepada mereka. Rasulullah, Abu Bakar, juga penunujuk jalan, Amir bin Fuhairah berhenti. Setelah mendekat, Suraqah meyakini bahwa Rasulullah kelak akan menang dan berkuasa. Suraqah mengisahkan tentang apa yang dilakukan para pembesar Quraisy dengan sayembara itu. Lalu ia mencoba memberikan kepada Rasulullah bekal perjalanan, namun Rasulullah hanya minta agar Suraqah merahasiakan keberadaan mereka. “Rahasiakanlah tentang kami,” pinta Rasulullah. Suraqah meminta beliau menuliskan ‘memo’ keamanan untuk dirinya. Kemudian Rasululah memerintahkan kepada Amir bin Fuhairah untuk menuliskannya. Amir pun menuliskannya di atas sepotong kulit, kemudian Rasulullah saw. melanjutkan perjalanannya.

Begitulah, Rasulullah yang semula dikejar hendak dibunuh, Allah selamatkan. Bahkan lebih dari itu, Allah mengubah hati Suraqah yang tadinya hendak memusuhi dan membunuh Rasulullah menjadi pembela Rasulullah. Setiap kali ada orang yang ingin mengejar di belakangnya dihalau oleh Suraqah dan disarankan untuk kembali.

Ketiga, perjumpaan Rasulullah dengan Abu Buraidah. Pemimpin salah satu kabilah di Jazirah Arab itu juga memburu Rasulullah saw. dan Abu Bakar untuk mendapatkan hadiah. Namun, setelah berjumpa dengan Rasulullah dan diajak bicara oleh beliau, ia bersama tujuh puluh orang dari kaumnya memeluk Islam. Ketika itu Abu Buraidah mencabut surbannya dan mengikatkannya pada tombaknya. Ia menjadikan “bendera” itu sebagai pernyataan bahwa juru selamat telah datang memenuhi dunia dengan keadilan.

Semua kisah itu menegaskan bahwa perjuangan menegakkan Islam akan banyak rintangan. Meski demikian, barangsiapa yang tulus ikhlas dan istikamah di jalan perjuangan tersebut, niscaya akan ditolong oleh Allah Yang Mahakuasa. Bahkan Allah sangat berkuasa untuk menyelamatkan nyawa hamba-hamba-Nya tersebut, bila memang mereka layak diselamatkan.

Dalam kondisi perjuangan umat Islam saat ini, sangat besar kebutuhan kita untuk kembali bersandar kepada Allah. Saat itulah, bila pun segala kesulitan menghadang, akan mudah bagi Allah memberikan jalan keluarnya. Tak ada yang sulit bagi Allah Yang Mahakuasa. 

Wallahu'alam. 

Selasa, 22 Maret 2022

Muslimah dan kebangkitan umat

Berakhirnya sistem kehidupan Islam pada awal abad ke-20 dan munculnya dominasi sistem kehidupan Kapitalis merupakan problematika terbesar yang dihadapi kaum muslimin dewasa ini. Akibatnya umat Islam semakin kehilangan gambaran nyata tentang kehidupan Islam yang sesungguhnya.

Terlebih lagi dengan gencarnya upaya Barat melancarkan perang pemikiran dan perang kebudayaan ke dunia Islam, maka lengkaplah sudah kemunduran kaum muslimin. Akhirnya posisi Islam yang seharusnya dijadikan landasan berpikir dan bertingkahlaku digantikan oleh pemikiran Kapitalis, sehingga tidaklah aneh jika akhirnya corak kehidupan individualis sekularis yang mendominasi umat Islam dewasa ini.

Corak kehidupan individualis-sekularis inilah yang akhirnya membuat kaum muslimin bingung untuk menyelesaikan masalah ini atau bahkan sebagian kaum muslimin tidak sadar bahwa mereka tengah terpuruk dalam jurang yang sangat dalam. Kalaupun ada upaya perbaikan terhadap situasi ini, kaum muslimin bingung jalan apa yang harus ditempuh untuk menyelesaikan permasalah ini, mengapa demikian? Karena corak kehidupan sekularis tidak menerima nilai-nilai atau tolak ukur yang baku, hanya nilai-nilai kemanusiaan yang semu yang mereka agungkan, sedangkan nilai tersebut relatif.

Jadilah kaum muslimin seolah-olah kehilangan pegangan, mereka melakukan upaya perbaikan sesuai kehendak hatinya bukan mengikuti langkah-langkah yang sudah dicontohkan oleh Nabi Muhammad Saw, ditambah lagi corak individualis yang mengakar kuat memicu adanya perbedaan langkah di antara anggota masyarakat pria dan wanita, kaum pria memperjuangkan yang dilakukan terpisah antara pria dan wanita, Bagaimana mungkin dengan sistem seperti ini kita bisa mempersatukan dan memperbaiki keadaan umat?

Corak kehidupan individualis-sekularis menempatkan wanita sebagai individu yang berdiri sendiri, terpisah dari pria dan bebas menentukan cara dan tujuan hidupnya. Berbeda dengsan Islam, Islam memandang wanita adalah sosok manusia dengan seperangkat potensi yang sama yang diberikan oleh Allah kepada manusia baik pria maupun wanita, yaitu potensi akal dan potensi hidup (naluri dan kebutuhan jasmani) sekaligus Allah pun memberikan bagaimana solusi cara pemenuhannya. Dan seiring dengan potensi tersebut, Allah menetapkan keduanya untuk menempati posisi dan peran yang beragam, yaitu sebagai hamba Allah, sekaligus sebagai anggota keluarga apakah sebagai anak, istri, atau Ibu juga sebagai anggota masyarakat.

Allah memberikan akal kepada manusia agar mampu memahami petunjuk-petunjuk Nya sehingga mampu membedakan mana yang baik mana yang buruk, yang benar dan yang salah. Tentu saja setelah melalui proses berpikir yang benar yaitu menjadikan wahyu sebagain landasan untuk memahami sesuatu. Dengan demikian manusia mampu menetukan apa-apa yang sesuai dengan ketentuan Allah sebagai Khaliknya dan apa-apa yang bertentangan. Dan ketika Allah memberi potensi naluri dalam diri manusia baik pria maupun wanita maka Allah pun memberikan solusi bagaimana cara memuaskannya. Oleh karena itu Allah memberikan seperangkat aturan-aturan yang harus dilaksanakan oleh pria maupun wanita agar keduanya dapat terjun dalam kancah kehidupan ini dengan tenang dan tentram.

Sebagai hamba Allah, dengan potensi yang sama yaitu dari sisi insaniyah (kemanusiaan) nya maka Allah memberikan aturan yang sama antara pria dan wanita, misalnya pembenaran kewajiban shalat, shaum, zakat, haji, menuntut ilmu, mengemban dakwah dan sebagainya. Semua itu dibebankan kepada manusia seluruhnya,  disanping itu Allah membebankan kewajiban mencari nafkah kepada pria karena hal ini berkaitan dengan fungsinya sebagai kepala rumah tangga. Demikina pula ketika Allah menjadikan tugas pokok wanita sebagai ibu dan pengelola rumah tangga, maka hal ini pun sesuai dengan fitrah kewanitannya..

Wanita dikaruniai kemampuan untuk memiliki tanggung jawab sebagai ibu seperti  kehamilan, melahirkan, menyusui dan mengasuh anak. Kemampuan ini tidak terdapat pada kaum pria, namun adanya perbedaan ini bukan bearti merendahkan salah satu atau meninggikan yang lain, semua aturan ini ditetapkan semata-mata demi kemaslahatan dan kelanggengan hidup manusia.

Wanita sebagai bagian dari masyarakat, maka ia tidak dapat memisahkan diri dari kehidupan masyarakat sebagaisebuah masyarakat yang berdiri sendiri. Allah berfirman dalam QS At-Taubah ayat 71 yang artinya: “Dan orang-orang yang beriman laki-laki dan perempuan sebagian mereka menjadi penolong bagi sebagian yang lain”. Dengan demikian merupakan hal wajar apabila antara manusia yang satu dengan yang lain saling bekerjasama dalam kehidupan bermasyarakat.

Sebagai bagian dari masyarakat maka wanita sebagaimana pria memiliki andil besar dalam menentukan arah, corak dan pola generasi masa kini dan masa depan. Karena itu merupakan suatu keharusan bagi wanita bersama pria bertanggung jawab dalam pengaturan urusan umat/masyarakat secara keseluruhan. Dengan kata lain merupakan kewajiban bagi kaum muslimin maupun muslimah untuk berjuang menjadikan umat Islam sebagai khairu ummah, sebaik-baik ummat yang ada di dunia ini, bergerak bersama-sama dan tidak memisahkan diri. Karena Islam sebagai diin yang sempurna dan universal memandang setiap persoalan pria atau persoalan ummat manusia merupakan tanggung jawab seluruh kaum muslimin.

Sehingga target penyelesaian akan menjamin terpenuhinya kebutuhan semua baik pria maupun wanita sebagai individu bagian keluarga dan masyarakat. Sehingga apapun persoalannya apakah itu masalah keterpurukan wanita, kemiskinan atau kekurangan pendidikan dipandang dalam skala global tidak individu.

Masyarakat Islam merupakan satu kesatuan yang memiliki arah dan tujuan yang satu. Sudut pandang Islam bukanlah sudut pandang yang berskala individual, yang parsial dan dangkal penyelesaiannya. Tetapi sudut pandang Islam berskala universal dengan penyelesaian yang tuntas dan sempurna, karena Islam merupakan ideologi yang memancarkan sistem kehidupan. Dengan demikian bentuk gerakan perjuanngan muslimah tidak pernah dan tidak boleh memisahkan diri. Karena ia merupakan bagian dari gerakan yang utuh, yaitu Islam. Inilah gerakan kaum muslimin yang harus diupayakan untuk mengembalikan kehidupan Islam di bawah naungan ridha Allah sebagai umat terbaik di muka bumi ini. Lalu apa yang harus kita lakukan?

Jika kita telusuri secara cermat, maka masyarakat bukanlah sekedar sekumpulan individu-individu saja, tetapi merupakan interaksi terus-menerus antara indvidu-individu yang dari sini akan lahir satu pemikiran, satu perasaan dan satu aturan yang mengikat mereka.  Oleh karena itu yang menentukan bangkit atau merosotnya suatu masyarakat/umat adalah kesepakatan umum yang lahir dari pemahaman tentang hidup berdasarkan aturan yang ditetapkan di dalamnya serta pemikiran dan perasaan yang ada dalam masyarakat tersebut.

Dan kebangkitan yang hakiki hanya dapat tercapai dengan mengajak masyarakat kepada aqidah islam dan melaksanakan Islam secara sempurna. Maka langkah yang harus kita tidak lain adalah dengan merubah pola pikir umat yang penuh dengan ide-ide barat yang pada hakikatnya mereka adalah musuh Islam dengan tsaqofah Islam. Sehingga umat akan bangkit dengan cara yang benar dan landasan yang benar yaitu aqidah Islam, bukan cara-cara yang dilontarkan oleh barat yang telah merasuk pada benak mereka. Maka langkah awal yang harus kita lakukan adalh membina umat dengan Islam, pemikiran-pemikiran dan hukum-hukum Islam.

Pemikiran dan hukum Islam disini tidak boleh hanya dipandang sebagai informasi saja, tapi harus dipandang sebagai acuan untuk membahas dan mesikapi fakta yang dihadapinya, sehingga ia akan mampu memberikan solusi terhadap problematika yang dihadapinya dengan tepat dan benar, berdasarkan pandangan Islam. Dengan pembinaan ini maka akan terbentuk pemahaman Islam di tengah-tengah kaum muslimin yang selanjutnya akan berpengaruh pada tingkah lakunya dan mendorongnya untuk siap bergerak meyampaikan dakwah Islam.

Maka merupakan suatu hal yang alami jika pada akhirnya akan lahir pada diri umat kerinduan untuk hidup dalam naungan Islam, diatur oleh hukum-hukum Islam dan senantiasa mengupayakan agar aturan Allah dan Rasul-Nya tegak dimuka bumi ini. Karena hanya dengan sistem Islamlah umat akan mampu meraih khairu ummah

Wallahualam bishawab.